Kronologi Pasien RSUD Dr. Moh Anwar Alami Dugaan Malpraktek Sehingga Harus Dirujuk Ke Surabaya

Sumenep – www.koranpatrolixp.com

sallah satu pasen yang ditangaini medis atas nama We (Inisial) asal Desa Aengdake, Kecamatan Bluto, yang divonis menderita penyakit usus yang dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr. H. Moh. Anwar Sumenep mendapat keluhan dari keluarga besar pasien.

Pasien yang telah menjalani operasi bedah selama dua kali tersebut saat ini kondisinya tambah parah dan semakin memprihatinkan.

Hal itu lantaran bekas operasi/bedah pada bagian perut pasien saat ini mengalami rembes atau mengeluarkan cairan, sehingga harus dirujuk ke salah satu rumah sakit (RS) di daerah surabaya, jawa timur.

Bambang Hodawi, SH., MH., selaku saudara dari pasien menyampaikan, jika dirinya menduga jika telah terjadi Malpraktek pada saat melakukan tindakan medis terhadap kakak perempuannya.

Pasalnya, pasca kakaknya menjalani operasi yang kedua kondisinya bukan malah membaik tapi tambah parah dan saat ini dalam proses akan dirujuk ke rumah sakit di Surabaya.

“Saya menduga ada malpraktek saat melakukan penanganan medis terhadap kakak saya,” ujarnya, Senin (17/10) di RSUD Dr. Moh. Anwar Sumenep.

Pengacara kondang yang dijuluki Hotman Paris Sumenep itu juga menjelaskan bahwa awal mula kakaknya itu dilakukan operasi di RSI Garam Kalianget. Dimana yang menangani kakaknya adalah dr Spesialis Bedah berinisial dr A.

Pada saat control pertama itu bagus (Baik-baik saja). Namun selang beberapa hari, bagian perut yang dibedah mengalami rembes atau mengeluarkan cairan.

“Melihat ada rembes dari bekas operasi itu, kami pihak keluarga semua sepakat membawa kakak perempuan saya ke rumah sakit Dr. Moh. Anwar, agar bekas bedah yang mengeluarkan cairan itu mendapat perawatan medis yang lebih maksimal,” katanya.

Setelah di rawat di RSUD Moh. Anwar, kata Bambang, kakak saya kembali dilakukan tindakan operasi. Dan yang menangani masih tetap dokter yang sama pada saat di rawat di RSI Garam Kalianget, yakni dr. A.

“Namun, selang beberapa hari pasca dilakukan operasi yang ke 2, bekas bedah yang rembes itu malah tambah parah,” jelasnya.

Pria yang sering mengklaim Calon Miliarder itu juga mengatakan jika banyak kejanggalan pada saat kakak perempuannya di rawat di RSUD Dr. Moh. Anwar.

Seperti halnya petunjuk yang disampaikan antara perawat di ruang ICU dan di ruang rawat inap tidak sinkron.

“Pada saat dirawat di ruang ICU pasca operasi, dokter dan perawatnya menyuruh kepada ponakan saya supaya pasien/kakak saya ini dilatih minum air 1 sampai 3 sendok per-hari. Namun saat dipindah ke ruang rawat inap, perawat di sana menyuruh kakak saya untuk berpuasa. Sehingga selama 5 hari kakak saya tidak pernah dikasih apa-apa,” lanjutnya.

“Dan tadi pagi pada saat dokter bedah itu mengontrol kakak saya justru malah disuruh untuk dikasih air dan disuruh banyak makan bubur,” imbuhnya.

Selain hal di atas, kata Bambang, pada saat perjalanan ke RSUD, dirinya mendapat telepon dari ponakannya bahwa kakaknya akan dilakukan tindakan operasi yang ketiga.

Rencana operasi ketiga tersebut disampaikan oleh Dokter Spesialis yang menangani kakaknya dan perawat di ruang rawat inap keponakannya.

Mendengar hal tersebut, Bambang langsung bergegas menemui Dr. Erliyati selaku direktur RSUD Moh. Anwar untuk meminta penjelasan mengenai kondisi dari kakaknya.

Namun, kata Penasehat DPC AWDI Kabupaten Sumenep itu, penjelasan dari Dr. Erliyati ini sangat membingungkan. Karena bekas operasi itu mengeluarkan cairan disebabkan faktor usia serta kakaknya juga ada penyakit jantung dan ginjal.

“Padahal dari awal, baik pada saat operasi pertama dan yang kedua, tidak ada penjelasan dari Dokter bahwa kakak saya ada gejala penyakit jantung dan ginjal,” ucapnya.

Setelah dirinya keluar dari ruangan Direktur RSUD Moh. Anwar, selang beberapa menit, tiba-tiba dirinya ditelepon oleh Dr. Erliyati, bahwa rencana operasi ketiga dibatalkan dengan alasan peralatan yang ada di RSUD tidak lengkap.

“Ini kan lucu, kenapa tidak dari awal sebelum dilakukan operasi yang kedua memberikan penjelasan kepada kami seperti itu. Semestinya kan dari awal sudah ada penjelasan dari pihak RSUD kepada kami,” ucap Bambang dengan nada penuh kesal.

Atas dasar itu lah, kenapa dirinya menduga telah terjadi malpraktek pada saat pihak RSUD ini memberikan penanganan medis terhadap kakaknya.

“Penjelasan dari pihak RSUD ini menimbulkan pertanyaan besar bagi saya dan keluarga. Jangan-jangan memang ada dugaan malpraktek di situ,” pungkasnya.

Sementara Direktur RSUD Dr. Moh. Anwar Sumenep, Dr. Erliyati saat dikonfirmasi oleh sejumlah awak media tidak dapat memberikan penjelasan secara medis.

Ia hanya mengatakan jika terlalu dini apabila menyimpulkan pasien atas nama We itu akan dirujuk ke RS di Surabaya karena akibat dari malpraktek.

“Terlalu dini menyimpulkan. Kita tadi sudah menjelaskan kepada pihak keluarga pasien bahwa dirujuk ke RS di Surabaya itu karena kondisi pasien,” ucapnya.

Namun sayang pada saat ditanya lebih spesifik lagi kondisi pasien yang bagaimana dan seperti apa? Dr. Erli memilih untuk tidak menjawab pertanyaan dari sejumlah awak media.

Pewarta | Sahawi

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses