Beternak Lele Peluang Bisnis Yang Menjanjikan, Waktu Panen Singkat Hasilnya Menggiurkan.

Jombang – www.koranpatrolixp.com

Berawal dari anggapan banyak masyarakat, bahwa beternak lele dalam kolam terlihat jorok dan menjijikkan, Hal itulah membuat salah satu peternak lele konsumsi, dialah Gimin warga desa godong RT.04 / RW.01 kecamatan Gudo kabupaten Jombang Jawa timur, harus memutar otak untuk memutus anggapan dari masyarakat.

Gimin, melihat peluang bisnis dari beternak lele, serta ditambah hasil riset, ternyata daging lele memiliki banyak kandungan protein daripada ikan salmon. Ia mencoba membuka peluang bisnis itu terbuka lebar. Apalagi modal dari ternak lele tidak begitu besar nominalnya, tetapi dalam kurun 2 bulan lebih sudah bisa meraup hasilnya.

Ketika dirinya menjalani bisnis ternak lele, dia juga sudah memiliki kerjasama dengan rumah makan, pedagang kaki lima serta depot makan yang menyajikan menu masakan dari bahan lele. Bahkan beberapa tengkulak juga menjadi partner bisnis lele untuk bisa dijual lagi ke pasar dengan harga per kilo gram sekitar 20 ribu rupiah.

“Banyak masyarakat yang mengenal lele itu bau, jorok, kotor. Untuk itu bagaimana cara merubah mindset masyarakat kita rubah yang beranggapan tentang lele, dari peluang itu saya mencoba bekerjasama dengan rumah makan atau pedagang kaki lima yang menyuguhkan menu lele, disitu ada peluang bisnisnya dan membuat masyarakat jadi suka mengkonsumsi lele” tutur Gimin.

Dari situlah dia merubah pemikiran kebanyakan orang tentang lele yang dinilai tidak bersih untuk dikonsumsi, karena dinilai kehidupan lele tersebut ditempat kotor, Gimin pun mengubah ternak lele dengan konsep kolam beton dengan sirkulasi air mengalir dari tandon penampung, alhasil konsumsi dengan jangka waktu 2,5 bulan sudah harus panen, dan lele juga terlihat segar dan bersih.

Dari sebelumnya, dimana semua proses budidaya maupun panen sudah dipersiapkan dengan baik, lele yang di budidayakan harus bebas dari kontaminasi bahan maupun zat kimia, serta aman untuk dikonsumsi, salah satu ciri dari metode ini ialah pemberian pakan probiotik, media kolam, sistem pembersihan kolam secara berkala dan menejemen budidaya.

Selain itu, menurut Gimin, lele dibudidayakan dalam kolam beton, memiliki keunggulan, selain praktis, mudah untuk perawatannya, volume tampung lele lebih banyak, dan yang paling penting disaat umur lele mendekati masa panen, air dalam kolam juga sangat mudah untuk dikuras serta kolam beton juga memiliki kekuatan lebih pada saat gerakan lele masa panen sangat keras.

“Dalam satu petak kolam beton dengan ukuran 3×5 m, setidaknya harus di isi dengan bibit lele berukuran 5/7 sebanyak 6000 ekor, yang nanti saat musim panen tidak memakan waktu yang cukup lama, bisa diawali dua bulan, nanti sisanya dua Minggu lagi sudah panen tahap kedua, karena lele itu jenis ikan kanibal, jadi masa panen dalam satu petak tidak bisa bersamaan bersih dalam satu panen.” katanya.

Dari perhitungan teori, bibit lele dengan jumlah 6000 ekor dan masa panen maksimal 2,5 bulan bisa menghasilkan berat kotor lele sampai 200 kwintal, tidak bisa dihitung seperti itu, sebab, kita harus menganalisa dari jumlah bibit yang dimasukkan per kolam dikurangi seperempat lele yang ditimbulkan oleh lele kecil yang dimakan oleh lele yang lebih besar ukurannya.

“Koefisien memasukkan jumlah lele di setiap kotak kolam, nantinya jumlah lele tidak sama dengan awal pemasukan jumlah diawal, sebab lele itu kanibal, telat memberi pakan, pasti lele ukuran kecil dimakan dengan lele berukuran diatasnya, untuk itu kita harus disiplin dan tepat waktu saat pemberian pakan, bagusnya pagi jam 6.00 dan sore jam 17.00 WIB, sehari dua kali.” jelasnya.

Berbicara peminat, sambung penuturan Gimin, dirinya mengaku sangat tinggi jumlah masyarakat saat ini yang ingin mengkonsumsi lele organik, dalam kurun satu tahun kenaikan dari kebutuhan lele konsumsi meningkat, bahkan ia mengaku kekurangan stok lele untuk disuplay ke rumah makan maupun tengkulak. Karena dalam satu tahun tiga kali panen.

“Sementara ini kolam yang saya punya ada 6 petak, terdiri dari 3 petak kolam berukuran 3×5 m, 2 petak kolam berukuran 6×7 m dan satu petak kolam berukuran 2×3 m, fungsi dari kolam yang berukuran kecil, untuk menyortir lele yang saat dipanen, ada yang berukuran belum layak konsumsi, harus dibesarkan lagi sampai seminggu kedepan, baru dijual.” Ujarnya.

Dan sampai saat ini, Gimin masih terus membudidayakan lele konsumsi, agar bisa memberikan pasokan pasar, rumah makan, pedagang kaki lima, supaya penghasilan dari beternak lele bisa untuk mengembangkan kapasitas kolam lebih banyak lagi, dan daya tampung lele yang dibudidayakan lebih banyak lagi volume bibit yang ternak. (wdynti).

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses